DR Sukartono
MALANG - Seorang mahasiswa Program
Doktoral Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur,
DR Sukartono, berhasil menemukan teknologi Biochar. Pemanfaatan
teknologi tersebut untuk membenahi persoalan kesuburan tanah di lahan
kering berpasir.
Dengan ditemukannya Biochar, lahan kering berpasir
bisa menjadi lahan potensial untuk menanam berbagai macam tanaman
bernilai ekonomis
-- Sukartono
Temuan itu sudah diterapkan di lahan kering
berpasir seluas 38.000 hektar di Kabupaten Lombok Utara. Menurut
Sukartono, lahan kering dengan tipe tanah berpasir, memiliki faktor
pembatas pertumbuhan tanaman.
Selain menyebabkan tanaman tidak
tumbuh subur karena kekurangan air, tanah kering juga sangat rentan
terhadap kekurangan unsur hara atau kandungan yang dibutuhkan tanaman
dalam jumlah kecil sepert Besi (Fe), Mangaan (Mn), atau dalam jumlah
makro, seperti Nitrogen (N).
"Dengan ditemukannya Biochar, lahan
kering berpasir (dry land sandy soils) bisa menjadi lahan potensial
untuk menanam berbagai macam tanaman bernilai ekonomis," jelasnya, Senin
(30/4/2012).
Dengan menggunakan Biochar, sebuah bahan arang
pembenah tanah, kesuburan tanah pada lahan kering dan berpasir bisa
diperbaiki dan bisa menyuburkan untuk tanaman yang akan ditanam
nantinya.
"Biochar lebih efektif digunakan, karena aplikasi
Biochar mampu meningkatkan kandungan c-organik tanah khususnya pada
lapisan 0-10cm. Disamping itu, aplikasi pada biochar lebih efektif
digunakan karena pelapukan atau dekomposisinya sangat lambat dan
bertahan lama dibandingkan dengan bahan organik segar seperti kompos dan
pupuk kandang," jelasnya.
Biochar, beber Sukartono, merupakan
bahan arang yang dibuat dari limbah pertanian organik, yang bisa berasal
dari sisa-sisa penebangan kayu, tempurung kelapa, dan kotoran sapi.
"Biochar dapat mempertahankan ketersediaan unsur hara dalam jangka waktu
yang lebih lama," katanya.
Kelebihan menggunakan Biochar, jika
pada pemupukan biasa, ketika tanah terkena air hujan, akan mudah
terkikis. Namun kalau pakai Biochar tidak akan mudah terkikis. "Karena
karena ada muatan negatif sehingga bisa mengikat unsur hara yang
bermuatan positif," jelasnya.
Lebih rinci Sukartono menjelaskan,
pembuatan Biochar terdiri dari bahan kulit kelapa atau batok kelapa yang
sudah kering. Lalu, dibakar di dalam sebuah lubang dengan menggunakan
pemanasan auto thermal."Batok atau kulit kelapa kemudian dipanaskan
selama delapan jam, di dalam lubang berukuran 1 meter kali 1,5 meter
kali 1 meter," katanya.
Setelah pembakaran akan dihasilkan
material berwarna hitam yang terbentuk. "Setelah itu, material berwarna
hitam itu didinginkan dengan cara dibungkus daun pisang selama 12 jam
untuk mendapatkan arang," katanya.
Tahap ketiga, setelah proses
pendinginan dilakukan, akan dihasilkan butiran-butiran partikel
berukuran 1 mm, yang sudah disaring. Butiran-butiran tersebut yang
menjadi Biochar, atau yang akan digunakan sebagai bahan penyubur tanah
berpasir.
Dari hasil temuan penelitian kata Sukartono
menuimpulkan, memberikan konfirmasi bahwa Biochar dan pupuk kandang
merupakan pembenah organik yang bernilai untuk membenahi kesuburan tanah
dan untuk produktivitas tanaman.